Mengenal Pohon Bulu dan Kerindangannya yang Kini Sulit Dijumpai

Kata “bulu” yang menjadi nama Desa Bulu dan Kecamatan Bulu di Kabupaten Sukoharjo bukanlah istilah yang merujuk pada “bulu” yang sering didengar. Namun, penamaan ini berakar dari suatu pohon yang disebut pohon bulu. Konon dahulu kala, pohon bulu banyak tumbuh di antara lebatnya pepohonan di daerah Sukoharjo bagian selatan. Kini, pohon bulu sudah sulit ditemukan dan sosoknya telah buram dalam angan masyarakat lokal. Pohon bulu di Desa Sanggang sendiri sudah tidak lagi ditemukan dan satu-satunya pohon bulu terdekat dapat dijumpai di Dusun III, Kamal, Bulu tepatnya di WE LAND.

 

Bertukar Nama dengan Pohon Bulu

Lihat Perawakan Pohon Bulu

Pohon bulu memiliki nama ilmiah Ficus annulata yang termasuk dalam keluarga ara yaitu famili Moraceae dan masih berkerabat dekat dengan pohon beringin (Ficus benjamina) yang sering dijumpai. Pohon bulu juga dikenal sebagai beringin pencekik atau ara pencekik. Berikut merupakan
pengklasifikasian pohon bulu:


Kerajaan : Plantae
Divisi : Tracheophytes
Ordo : Rosales
Famili : Moraceae
Tribus : Ficeae
Genus : Ficus
Spesies : Ficus annulata Blume.


Penamaan ”annulata” berasal dari bahasa Latin yang berarti “cincin melingkar”, kemungkinan merujuk pada rantingnya yang memiliki garis melingkar yang jelas seperti cincin.

Lihat Ranting Bercincin

 

Disebut sebagai Beringin “Pencekik”

Lihat Akar Pencekik

Pohon bulu dikenal sebagai beringin pencekik atau ara pencekik karena sifat hidupnya yang menumpang pada pohon lain mulai dari berkecambahnya biji hingga tumbuh besar menjadi pohon dengan ‘mencekik’ pohon inang hingga mati dan menggantikannya. Secara umum, Ficus sp. merupakan tumbuhan yang memiliki bentuk hidup beraneka ragam seperti pohon, perdu, semak, pencekik, merambat, liana (menjalar), dan dapat berupa akar liar (menggantung sebagai hemi-epifit, epifit, dan akar merambat).


Sebagai pencekik, tahapan hidupnya terdiri dari epifit menjadi semi-epifit menjadi pencekik dan pada akhirnya menjadi pohon. Tahap pertama sebagai epifit adalah biji berkecambah dan tumbuh di tajuk pohon inang untuk memperoleh cukup sinar matahari dan nutrisi dari air hujan, kabut, dan debu. Tahap kedua sebagai hemi-epifit, akarnya tumbuh ke bawah mencari sumber air dan nutrisi. Tahap ketiga sebagai pencekik, akar Ficus sp. tumbuh lebih tebal, lebar, dan menyatu membentuk seperti batang sehingga tampak seperti mencekik pohon inang. Pada tahap akhir, Ficus sp. menjadi pohon dewasa yang tinggi dengan cabang, daun, buah dan bunga, dengan ditandai akarnya menjulur mencapai tanah. Pohon inang kemudian mati, membusuk sehingga terbentuk rongga di antara akar Ficus sp. . Vektor yang menyebarkan biji pencekik dapat bersal dari satwa (burung, serangga, tupai), aliran air, dan angin. Biasanya, biji jatuh di sela-sela percabangan akibat bentuk pohon yang berlekuk sehingga ideal untuk media hidup biji pencekik.

 

Mengenal Rindangnya Pohon Bulu

Lihat Herbarium Pohon Bulu
Daun
Pohon bulu lebih mudah dibedakan dari pohon beringin lainnya melalui kenampakan daunnya. Daun tunggal, susunan daun tersebar, helaian daun berbentuk elips sempit hingga oblong, panjang 14-27 cm dan lebar 4-8 cm. Tangkai daun memiliki permukaan gundul hingga berbulu, panjang tangkai 2-4 cm. Permukaan daun adaksial ‘bagian atas’ berwarna hijau tua dan gundul, sedangkan permukaan daun adaksial ‘bagian bawah’ berwarna hijau pucat dan gundul. Ujung daun meruncing dan pangkal daun runcing sampai tumpul, tepi daun rata. Pertulangan daun menyirip dan intermarginal, tulang daun primer timbul pada adaksial dan abaksial, tulang daun sekunder tenggelam pada abaksial dan terlihat jelas pada adaksial berjumlah 12-16 pasang dengan tulang daun sekunder berpasangan pada bagian pangkal daun. Stipula berbentuk segitiga dengan ujung meruncing, berbulu, rontok ketika daun tunas membuka.

Lihat Daun Segar

Lihat Daun Kering

Batang, cabang, ranting, dan akar
Batang simpodial dengan percabangan ortotrof. Batang berwarna coklat keabuan, memiliki lentisel horizontal dan kadang vertikal pendek berwarna coklat oranye. Ranting terutama bagian terminal ‘ujung’ berbulu halus. Batang, ranting, dan akar mengeluarkan getah putih susu ketika dilukai. Memiliki akar gantung, namun tidak lebat.

Lihat Batang, Cabang, dan Ranting

Lihat Akar

Lihat Getah

Bunga dan buah
Bunga pada Ficus sp. berupa bunga majemuk dengan tipe perbungaan yang disebut periuk. Perbungaan periuk berupa penebalan ujung tangkai perbungaan hingga berdaging membentuk seperti badan buah yang berongga. Periuk berisi banyak individual bunga, masing-masing memiliki benang sari dan putik sendiri, terletak di permukaan dalam periuk dan tidak tampak. Penyerbukan tipe perbungaan periuk dibantu oleh wasp ‘tawon’ betina yang bertelur di dalam bunga.

Lihat Bunga dan Buah
Bunga periuk ini nantinya akan berkembang menjadi buah ara. Bunga dan buah terletak aksiler dan mengelompok pada ujung ranting yang berdaun, berbentuk bulat telur, saat muda berwarna hijau muda dengan bintik-bintik putih yang tersebar dan saat masak berwarna merah oranye, berukuran 2-2,5 cm, ujung buah terdapat tonjolan membulat. Buah pohon bulu menjadi santapan satwa liar terutama kelelawar di malam hari. Buah pohon bulu saat matang kerap dikatakan menyerupai buah duwet (Syzygium cumini) karena kemiripan bentuknya yang lonjong hingga bulat telur serta warna merah oranye buah masak pohon bulu yang menyerupai warna buah duwet ketika belum masak.

 

Menilik Keistimewaan Pohon Bulu

Pohon Ficus sp. sering dikaitkan dengan keberadaan sumber mata air. Hal ini bukan tak beralasan, menurut Trimanto (2013), mata air dangkal dapat muncul karena adanya sistem perakaran tumbuhan yang membuka rekahan pada tanah atau batuan yang terhubung dengan aliran air tanah. Ficus sp. memiliki akar berbentuk kanopi yang tersusun secara rapat dan dapat menembus tanah ataupun batuan hingga mencapai akuifer sehingga memungkinkan terbukanya aliran baru bagi air tanah untuk muncul ke permukaan (Ridwan & Pamungkas, 2015). Lüscher (2003) dalam Cahyaningrum dkk. (2023) menjelaskan bahwa akar Ficus sp. kemungkinan memiliki mekanisme hydraulic conductance berupa kemampuan untuk menyerap sejumlah besar molekul air untuk disebarkan ke permukaan tanah pada malam hari dan kemudian akan diserap kembali untuk menjalankan metabolisme jaringan di waktu pagi hari. Mekanisme inilah yang menyebabkan tanah di sekitar pohon Ficus sp. basah pada malam hari.


Selain perannya dalam konservasi air, pohon bulu mampu menyediakan makanan bagi satwa liar terutama kelelawar dan primata. Ditambah dengan tajuknya yang lebat, pohon bulu dapat berfungsi sebagai kanopi yang menyokong habitat bagi satwa liar. Jika ditilik dari sejarah dan manfaatnya, hal tersebut menjadikan pohon bulu sebagai kekayaan yang tak ternilai. Setiap batang pohon di sekitar kita memiliki cerita dan peran yang sering dipandang sebelah mata atau bahkan dilupakan. Mari lestarikan alam ini karena waktu terbaik menanam pohon adalah puluhan tahun yang lalu dan waktu terbaik kedua adalah sekarang.

 

Sumber:
Cahyaningrum, D. C., Kasmiyati, S., & Glodia, C. (2023). Inventarisasi Keanekaragaman Vegetasi Pohon yang Dapat Mengkonservasi Air di Kawasan Sumber Mata Air Senjoyo. Jurnal Sains Dan Edukasi Sains, 6(2), 75-84.
Lüscher P, Z. K. (2003). Flood protection in forests. Freising: Bavarian State Institute of Forestry.
Ridwan, M., & Pamungkas, D. W. (2015). Keanekaragaman Vegetasi Pohon di Sekitar Sumber Mata Air di Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia, 1(6), 1375–1379.
Trimanto, T. (2013). Diversitas pohon sekitar aliran mata air di kawasan Pulau Moyo Nusa Tenggara Barat. In Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning, 10(2), 434-438.