Menelusuri Jejak Sejarah dan Tradisi Sendang di Desa Sanggang

Desa Sanggang merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Sukoharjo yang dianugerahi kekayaan alam dan warisan tradisi yang sangat luar biasa. Terletak di kawasan pegunungan yang asri, desa ini menyimpan situs budaya yang hingga kini masih dirawat dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat setempat. Salah satu warisan budaya yang melekat erat di kehidupan masyarakat adalah sendang.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sendang adalah kolam atau sumber air alami di area pegunungan yang airnya jernih dan mengalir secara terus menerus. Bagi warga Desa Sanggang, sendang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampung air untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, atau mengambil air bersih. Melainkan, sendang merupakan situs budaya berharga yang menyimpan nilai sejarah, kearifan lokal, serta spiritualitas yang diwariskan secara turun-temurun.

Di Desa Sanggang terdapat banyak sendang yang hingga kini tradisi dan budayanya masih sangat dijaga oleh masyarakat setempat. Dari sekian banyak sumber air alami yang ada, terdapat empat sendang yang menjadi kajian utama, sebagai berikut.

  1. Sendang Mbah Putih

Sendang Mbah Putih terletak di Dukuh Dranjang. Tempat ini dikenal sebagai salah satu punden atau pedanyangan yang diyakini dinaungi oleh sosok leluhur, yaitu Mbah Putih. Keberadaannya ditandai dengan berdirinya sebuah pohon beringin yang tidak hanya berfungsi sebagai peneduh, tetapi juga menjadi pelindung alami menjaga ketersediaan sumber air. Hingga saat ini, Sendang Mbah Putih masih digunakan oleh warga sekitar untuk berbagai aktivitas sehari-hari seperti mencuci, mengangkut air bersih, hingga tempat mandi. Sendang Mbah Putih menjadi penopang utama kehidupan warga karena airnya hampir tidak pernah surut.

Tradisi dan budaya di Sendang Mbah Putih termasuk sakral dan terus dijaga masyarakat, menetapkan etika berkunjung, dimana setiap orang yang datang diwajibkan untuk mengucapkan salam, mencuci kaki terlebih dahulu, serta senantiasa bertutur kata yang sopan dan baik. Tradisi spiritual seperti tirakat masih rutin dilaksanakan oleh warga setiap malam Jumat. Puncak pelestarian budaya dan tradisinya terdapat acara setiap tahun pada bulan Besar (sebelum memasuki bulan Suro), dimana warga menyelenggarakan upacara adat bersih desa. Acara ini dimeriahkan dengan pagelaran kesenian tradisional tayub atau ledek sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki dan sumber air yang senantiasa mengalir.

  1. Sendang Mbah Dolah

Sendang Mbah Dolah terletak di Dukuh Samin. Situs budaya ini merupakan pepunden bersejarah yang masih sangat dihormati. Sendang Mbah Dolah juga memiliki peranan yang sangat penting dalam ritual adat masyarakat Dukuh Samin, khususnya pada tradisi bersih desa. Menjelang Idhul Adha, terdapat tradisi dimana warga membawa hewan kurban untuk dicuci dan dibersihkan di sendang yang airnya mengalir ke sungai sebelum disembelih. Selain itu, secara tradisional, warga meyakini bahwa dengan membasuh diri atau mandi di Sendang Mbah Dolah, keluhan seperti rasa nyeri, pegal-pegal, badan lesu, dan kondisi kurang sehat dapat berangsur sembuh.

Rasa gotong-royong warga terjalin setiap kali acara bersih desa di area Sendang Mbah Dolah diadakan. Rangkaian acara dan doa tradisi ini dipimpin oleh Ketua RT setempat. Pada tradisi tersebut warga menyelenggarakan tradisi kenduren atau sodakohan sebagai wujud rasa syukur. Setiap keluarga akan membawa nasi tumpeng dari rumah masing-masing, kemudian digabungkan dan dibawa ke area Sendang untuk dimakan bersama-sama.

  1. Sendang Lor Balong

Situs Sendang berikutnya yang tidak kalah nilainya adalah Sendang Lor Balong yang terletak di Dukuh Wates. Keberadaan sendang dibawah pohon Bulu yang tumbuh besar dan rindang, menciptakan benteng alami yang menjaga pasokan sumber air dibawahnya. Sama halnya dengan sendang-sendang lainnya, Sendang Lor Balong hingga saat ini masih sangat dihormati dan dijaga kelestarian dan tradisinya oleh masyarakat sekitar sebagai warisan budaya yang berharga.

  1. Sendang Cerme

Selain ketiga sendang di atas, terdapat pula Sendang Cerme yang berlokasi di Dukuh Klepu. Keberadaan Sendang Cerme hingga kini masih sangat dijaga keberlanjutan tradisinya oleh masyarakat sekitar. Sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur dan alam penopang kehidupan, warga Dukuh Klepu secara rutin melaksanakan tradisi pemberian sesaji di area sendang ini. Pelaksanaan tradisi tersebut bukan hanya merupakan bentuk kearifan lokal dalam memohon keselamatan dan kelancaran rezeki, tetapi juga menjadi sarana pengikat tali silaturahmi serta wujud rasa syukur warga atas keberadaan sumber mata air yang terus mengalir.

Keberadaan sendang-sendang di Desa Sanggang menjadi bukti keharmonisan hubungan manusia, alam, dan tradisi lokal. Kehadiran pohon-pohon besar seperti beringin, winong, sambi, dan bulu di sekitar sendang merupakan bentuk kearifan masyarakat dalam menjaga resapan air. Dengan terus menjaga kebersihan lingkungan sendang, mematuhi etika bertutur kata yang baik, serta melestarikan tradisi seperti Bersih Desa dan Kenduren, kita turut memastikan bahwa kekayaan budaya dan kejernihan air Desa Sanggang dapat terus dinikmati dari generasi ke generasi.

Ditulis oleh: Friska Esmeralda (TIM KKN-PPM UGM Bulu 2026)

Kategori: Berita/Situs Budaya

Tanggal: 30 Juli 2026

DAFTAR REFERENSI

Agus. 2026. “Sejarah, Etika, dan Tradisi Sendang”. Hasil Wawancara Pribadi: 23 Juli 2026, Desa Sanggang.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/.

Kasiman. 2026. “Sejarah, Etika, dan Tradisi Sendang Mbah Dolah”. Hasill Wawancara Pribadi: 25 Juni 2026, Desa Sanggang.

Sunar. 2026. Sejarah, Etika, dan Tradisi Sendang Mbah Putih”. Hasil Wawancara Pribadi: 25 Juni 2026, Desa Sanggang.